SELAMAT DATANG DAN TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA . . .

Sabtu, 19 November 2011

Belajar sejarah yuk....



SEPANJANG orang Indonesia, siapa tak kenal burung Garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila). Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu? Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.
Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda.
Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda. Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marah. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.

Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.
Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 Jo Pasal 6 PP No 66 Tahun 1951. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.

Turiman SH M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak yang mengangkat sejarah hukum lambang negara RI sebagai tesis demi meraih gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tersebut bisa membuktikan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. “Satu tahun yang melelahkan untuk mengumpulkan semua data. Dari tahun 1998-1999,” akunya. Yayasan Idayu Jakarta, Yayasan Masagung Jakarta, Badan Arsip Nasional, Pusat Sejarah ABRI dan tidak ketinggalan Keluarga Istana Kadariah Pontianak, merupakan tempat-tempat yang paling sering disinggahinya untuk mengumpulkan bahan penulisan tesis yang diberi judul Sejarah Hukum Lambang Negara RI (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Peraturan Perundang-undangan). Di hadapan dewan penguji, Prof Dr M Dimyati Hartono SH dan Prof Dr H Azhary SH dia berhasil mempertahankan tesisnya itu pada hari Rabu 11 Agustus 1999. “Secara hukum, saya bisa membuktikan. Mulai dari sketsa awal hingga sketsa akhir. Garuda Pancasila adalah rancangan Sultan Hamid II,” katanya pasti. Besar harapan masyarakat Kal-Bar dan bangsa Indonesia kepada Presiden RI SBY untuk memperjuangkan karya anak bangsa tersebut, demi pengakuan sejarah, sebagaimana janji beliau ketika berkunjung ke Kal-Bar dihadapan tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan anggota DPRD Provinsi Kal-Bar.**

Sultan Hamid II Pencipta Burung Garuda

Syarif Abdul Hamid Alkadrie yang bergelar Sultan Hamid Alkadrie II dan Sultan ke 8 Pontianak, Kalbar ini adalah pencipta Burung Garuda. Sultan Hamid juga orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer.
Pontianak: Nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie memang kurang dikenal di Tanah Air. Padahal, tokoh nasional dari Pontianak, Kalimantan Barat ini adalah pencipta lambang negara Indonesia, Burung Garuda.
Selain pencipta lambang negara, Syarif yang bergelar Sultan Hamid Alkadrie II dan Sultan ke 8 Pontianak ini juga adalah orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer, yaitu mayor jendral.
Sultan Hamid membuat lambang negara berdasarkan penugasan Presiden Sukarno pada 1950. Saat itu dia menjabat menteri tanpa porto folio. Rekannya, Muhammad Yamin sebenarnya juga membuat rancangan lambang negara, Namun, Sukarno akhirnya memilih rancangan Sultan Hamid. Setelah disempurnakan, gambar Burung Garuda diresmikan Sukarno sebagai lambang negara pada 10 Februari 1950.
Salinan sketsa Burung Garuda yang tersimpan di Keraton Kadriah, Pontianak ini menunjukkan proses pembuatan lambang negara sangat rumit hingga harus diubah berkali-kali.

sumber: terselubung.blogspot.com
»»  BACA SELENGKAPNYA...

Selasa, 15 November 2011

Kucing yang terbuang!


Salah satu resiko kalo punya rumah deket pasar tradisional ya kayak gini, harus setia mendengarkan tangisan anak kucing kalau-kalau ada anak kucing yang dibuang ke pasar. Katanya sih kalo dibuang ke pasar tu biar si anak kucing bisa tetep hidup dari sisa makanan dipasar dan kalau-kalau ada orang baik hati yang mau munampung mereka. Tapi coba deh pikir, anak kucing yang umurnya baru beberapa hari kan masih menyusu induknya dan belum bisa makan apa-apa. Terus kalo dibuang dipasar, mereka mau nyusu sama kucing mana? Mau makan apa? Adakah kucing baik hati yang mau memberikan susunya? Ini sama halnya dengan membunuh secara perlahan. Kalau emang niat mengurangi jumlah kucing peliharaan seharusnya kan yang dibuang induknya bukan anaknya. Kalo induknya kan sudah bisa cari makan sendiri, jadi sang majikan tinggal ngurus si anak kucing. Tapi Tuhan maha adil, sebelum menemukan majikan baru mereka masih hidup. Pengen juga sih punya kucing satu dirumah, tapi bapak gak mau kasih ijin. Ini bukan protes, melainkan hanya saran kepada majikan kucing. Kalo mau buang kucing, perhatikan juga perasaan warga didekat tempat pembuangan! Ok!
Yah, hari ini ada yang buang kucing lagi. Siap-siap penutup telinga deh……….
»»  BACA SELENGKAPNYA...

Hpku sayang Hpku malang...


Hari ini untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu 1 tahun, HPku Nokia 2330 classic harus service! Minta di flash! Uhhh….!!! Kata masnya, hapi tipe ini dan tipe sejenisnya gak tahan untuk internetan. Tambah gregetan aja sama nih HP! Rasanya pengen banting, pengen buang, dan lain-lain.  Untungnya yang punya tempat service saudara sendiri, jadi lebih hemat !. Coba kalo bukan, uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan lainnya bisa-bisa terkuras. Alhamdulillah ya, sesuatu banget (kata mbak syahrini).
Pengennya sih beli baru, tapi uang darimana? Pohon duitnya belum berbuah! (pohon duitku yaitu tanaman cabe disawah ). Sepertniya harus lebih sabar lagi dan harus tetap setia sama HP ini. Tapi kok sekarang HPku malah jadi gak bisa buat internetan ya? Benar-benar gawat ini!!!!!!!!!!

»»  BACA SELENGKAPNYA...

Minggu, 13 November 2011

Siapa mereka ?


Masih teringat mimpi semalam. Mimpi yang sungguh mengagumkan tapi juga menyeramkan. Bukan mimpi mendaki gunung tertinggi atau mimpi menemukan situs bersejarah tapi mimpi melihat diri sendiri menjadi orang lain. Mungkin terdengar biasa saja, tapi jika teman-teman mengalaminya pasti akan terus mengingatnya  d(^_^)b
Mimpiku dimulai ketika aku merasa  menjadi seseorang yang berbeda. Aku menyebutnya “Akhi” (Sosok akhi sungguh berbeda dengan tubuhku dan sangat membuatku iri! akhi lebih tinggi dariku dengan tubuh yang proporsional dan wajah yang lebih “baik” dari wajahku). Akhi bersama dengan seorang gadis cantik memakai kerudung yang membuatnya terlihat anggun aku memnyebutnya dengan “ukhti”. Menurutku ukhti  adalah pacar dari akhi kenapa? Karena hanya dengan melihatnya, hatiku menjadi tenang dan damai ^_^. Keduanya berjalan bersama menuju sebuah tempat yang menurutku sebuah sekolah. Melihat seragam yang kupakai dan bangunan sekolah yang bagus, sekolah itu pastilah sebuah sekolah muslim internasional. Sangat berbeda dengan sekolahku yang bangunannya biasa saja dengan kursi dan meja terbuat dari kayu, sekolah itu dilengkapi dengan peralatan yang serba bagus. Kembali ke cerita! Aku dan Ukhti berjalan bersama yang terkadang diselingi dengan canda gurau. Pasti taulah jika kita berjalan dengan pacar kita jadinya kayak apa?. Mereka tiba didepan sebuah ruangan, aku membuka pintu dan mempersilakan ukhti untuk masuk terlebih dahulu. Mereka disambut oleh pandangan decak kagum  teman-teman mereka yang tak henti-hentinya memandangi mereka dengan senyum bahagia seperti melihat pasangan yang baru jadian. Kemudian mereka duduk. Ukhti duduk di depan sedangkan aku dibelakang. Kemudian pandanganku berubah, aku tidak lagi berada di kelas tidak lagi memakai seragam tapi memakai pakaian serba putih. Aku merasa berada di sebuah ruang bawah tanah seperti dalam film berlatar kerajaan dengan tangga spiral besar dan panjang. Berjalan menuruni tangga bersama ukhti. Aku terus  menggandeng ukhti  turun kebawah. Pikiranku terus berkata “akan kutunjukkan tempat yang special, pasti ukhti suka”. Kalimat itu terdengar seperti nyata dan memang berasal dari pikiranku sendiri. Sampailah kami pada sebuah kolam besar tapi kosong tanpa terisi air. Terdengar ukhti berkata dengan agak kecewa “sayang tidak ada airnya. Jika ada pasti kamu bisa mengajariku berenang”. Ketika hendak melanjutkan ketempat selanjutnya, tiba-tiba terdengar suara keras seseorang. Kurang lebih suaranya begini, “cari sampai ketemu, jaga tempat ini dan jangan biarkan siapapun masuk!”. Tiba-tiba aku merasakan ketakutan luar biasa dan bingung mencari tempat sembunyi. Kemudian aku menarik tangan ukhti menuju sebuah pintu dan membukanya. Mimpiku berakhir setelah aku melihat cahaya terang yang berasal dari luar.
Setelah terbangun, aku terus bertanya, siapakah yang ada dalam mimpiku? Apakah mereka teman atau saudara yang belum kutemui? Baik sososk akhi dan ukhti, aku tidak pernah mengenalnya bahkan belum pernah melihatnya. Apakah ini cuplikan film? Tapi film apa? Ataukah mereka orang yang telah meninggal dan ingin ku doakan ? tak seorangpun tahu. Ahhh, jadi pengen ngelanjutin mimpinya. Semoga malam ini dapat sambungan ceritanya. Wkwkwkwkwkwk.....
»»  BACA SELENGKAPNYA...

Minggu, 06 November 2011